Kamis, 27 Januari 2011

Persibo butuh 34 Milyar Semusim

Dalam satu musim kompetisi Liga Primer Indonesia 2011, anggaran untuk Persibo Indonesia dari konsorsium LPI sebesar Rp 34 miliar.

Chief Executive Officer PT Pengelola Persibo Indonesia (PPI) Widiawan Ferriyanto Kodrat, Jumat (7/1/2011), menjelaskan, anggaran sebelum Oktober hingga Desember 2010 sudah mencapai sekitar Rp 10 miliar. Dana yang disiapkan untuk Januari hingga Desember 2011 dialokasikan Rp 24 miliar.

Dana Rp 10 miliar untuk berbagai persiapan dan sosialisasi di Bojonegoro. Dana itu termasuk pembayaran gaji pemain yang sempat terlambat di manajemen, sampai dengan kontrak baru dengan LPI . "Dana Rp 24 miliar untuk 2011 bisa bertambah sesuai kebutuhan tim," ujar Feri.



http://bola.kompas.com/read/2011/01/07/17304529/Dana.Persibo.Rp.34.Miliar.Semusim

BOJONEGORO, KOMPAS.com — Dalam satu musim kompetisi Liga Primer Indonesia 2011, anggaran untuk Persibo Indonesia dari konsorsium LPI sebesar Rp 34 miliar.

Chief Executive Officer PT Pengelola Persibo Indonesia (PPI) Widiawan Ferriyanto Kodrat, Jumat (7/1/2011), menjelaskan, anggaran sebelum Oktober hingga Desember 2010 sudah mencapai sekitar Rp 10 miliar. Dana yang disiapkan untuk Januari hingga Desember 2011 dialokasikan Rp 24 miliar.

Dana Rp 10 miliar untuk berbagai persiapan dan sosialisasi di Bojonegoro. Dana itu termasuk pembayaran gaji pemain yang sempat terlambat di manajemen, sampai dengan kontrak baru dengan LPI . "Dana Rp 24 miliar untuk 2011 bisa bertambah sesuai kebutuhan tim," ujar Feri.

PPI terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, khususnya Sartono Anwar sebagai pelatih kepala. Gaji pemain dan tim ada pada Sartono. Sejak awal pemain diberi tahu jangan sampai cemas memikirkan gaji.

Menurut Feri, LPI akan lebih profesional dan menjamin pemain tidak terlambat menerima gaji karena konsorsium LPI sudah menganalisisnya lebih dalam. "Kami menjamin, jika setiap waktu gaji sudah akan langsung ditransfer via rekening masing-masing. Kami meminta pemain konsentrasi di lapangan dan permainan agar Persibo bisa berprestasi di LPI," katanya.

Dalam LPI, tim berjuluk "Laskar Angling Dharma" ini diperkuat 22 pemain. Peluncuran tim berlangsung pada Jumat ini di mes Persibo, Jalan Untung Suropati, Bojonegoro, Jawa Timur. Samsul Arif yang sebelumnya bermain untuk Persela Lamongan ikut bergabung sebagai pemain depan. Lini depan Persibo juga diperkuat pemain Dicki Firasat yang sebelumnya juga di Persela, Eugene Dadi dari Wellington Phoenix, Li Zhixing dari TSW Pegasus, dan Bagus Tjahyono dari Persekab Pasuruan.

Pada barisan tengah ada Iswandi Dai yang pernah memperkuat Persema Malang, Jajang Paliama, Mohammad Irfan, Nurhidayat, Moch Samsul Huda, yang selama ini memperkuat Persibo. Selain itu lapis tengah juga diperkuat De Andrade Medeiros Wallacer asal Botafogo FRRJ, dan Kim Kanghyun dari Incheon Korail FC.

Pemain lapis belakang yakni Akhmad Aries Tuansyah, Novan Setyo Sasongko, Muhammad Hamzah yang selama ini menjadi skuad Persibo. Pemain belakang lainnya, Carlos Eduardo Bizarro yang sebelumnya bermain di Pelita Jaya Karawang, Ahmad Sumardi dari Persih Tembilihan, Aang Suparman dari Persiba Balikpapan, dan Friyan Eko Yuwono hasil kompetisi internal Bojonegoro. Penjaga gawang yang bergabung Wahyusi yang pernah memperkuat Persik Kediri, Susanto dari Persik Kendal dan Rendra Pratama Natakusumah dari PSB Bogor.

Sebelum peluncuran tim Persibo, Kamis (6/1/2011) sekitar pukul 20.00, puluhan orang yang mengaku pendukung Persibo Bojonegoro, Boromania, mendatangi mes Persibo di Jalan Untung Suropati saat manajemen sedang rapat. Mereka memberikan surat kepada manajemen Persibo yang sudah berikrar mengikuti LPI.

Mereka mempertanyakan sikap manajemen yang kukuh tidak menggunakan nama Persibo Bojonegoro dan memilih LPI. Padahal, Persibo bisa menapaki sepak bola hingga masuk Liga Super Indonesia merangkak dari nol, dari Divisi III, II, I, hingga juara Divisi Utama 2009/2010.

Manajer Persibo Letnan Kolonel Infantri Taufik Riesnendar menyatakan, jangan sampai eksistensi Persibo digembosi orang yang mengatasnamakan Boromania. Masyarakat sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Diharapkan tidak ada provokasi lagi dari pihak-pihak tertentu sebagai upaya menggerogoti eksistensi Persibo. "Kita saat ini fokus pada persiapan yang akan digelar dan laga perdana Persibo versus Batavia Union di Stadion Letjen H Sudirman Bojonegoro, Minggu (9/1/2011) lusa," katanya.

Persibo sudah mengirimkan surat pengunduran diri dari Liga Super Indonesia, Desember lalu. Berbagai pertimbangan membuat manajemen mengambil sikap realistis. Manajemen tidak mempermasalahkan sekelompok orang yang menamakan diri sebagai Boromania yang belum bisa berpikir positif .

Manajemen Persibo memutuskan untuk pindah ke LPI dengan harapan liga lebih profesional dan bersih serta tidak memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. " Kami melalui PT Pengelola Persibo Indonesia (PPI) ingin mandiri dan tidak selalu tergantung pada uang rakyat," kata Taufik.



Rabu, 26 Januari 2011

Everton FC : Financial Result

A top five Premier League finish and a double appearance at Wembley
Stadium in season 2008/09 all contributed to positive financial results
for the year ended May 31 2009.


The Everton Football Club Company has posted its year-end results
with a 5.3% increase in turnover, mainly as a result of broadcasting
income and gate receipts.


Revenue generated from the sale of match tickets and corporate
hospitality rose to £21.9 million whilst the cash received from
television was up £2 million to £48.6 million, reflecting a record
number of 17 live televised Premier League games involving Everton.


Turnover overall increased £4 million to £79.7 million, which is a
new Company record. However, this was offset somewhat by the increase in
the wage bill to £49.1 million – a rise from 59% to 62% as a proportion
of turnover.


As a result of the increased turnover, and further investment in the
playing squad, the Company posted an operating profit excluding player
trading of £6.3 million. The inclusion of the amortisation of players’
registrations of £13 million gave rise to an overall operating loss of
£6.7 million.


Chairman Bill Kenwright said in his statement to shareholders: “Our
wonderful FA Cup run quite possibly deflected attention from what was
another hugely-satisfying Premier League campaign.


“To again finish fifth in what remains Europe’s toughest and most
unforgiving league was a magnificent achievement – one which guaranteed
another European campaign which continued the steady progress which has
hall-marked David Moyes’ tenure as manager.


“Maintaining our progress, continuing to punch above our weight if
you like, will be very difficult but I stand by my assertion that we
have a manager who will go down as one of our all time greats and a
squad of players that is amongst our very best over the last two
decades.


“As has always been the case, David was fully supported by myself and
by my fellow Board members. He remains the single, most important
figure at the Club and we all strive – on a daily basis – to provide him
with the tools he believes are necessary if we are to continue to
evolve and develop into a genuine, meaningful force within both English
and European football.”

sumber : http://www.evertonfc.com/news/archive/financial-results-announced.html

Tuesday 1 December 2009, 08:00


Dana APBD untuk PSIS Semarang (2005-2010)

Selama ini, banyak klup sepakbola yang mendapatkan kucuran dana dari APBD untuk biaya mengarungi kompetisi di bawah naungan PSSI. Di Semarang, misalnya, PSIS Semarang mendapatkan Rp 1,2 miliar dari APBD Perubahan 2010.

Gelontoran dana APBD untuk PSIS akhir-akhir ini memang berkurang tajam. Selain karena dikecam berbagai pihak, saat ini PSIS sudah berada di kompetisi divisi utama, tidak di kompetisi Liga Super.

Sebelumnya, dana yang diterima PSSI dalam musim kompetisi tahun-tahun lalu adalah Rp 3,1 miliar pada (2004), Rp 7,2 miliar (2005), Rp 14 miliar (2006), serta Rp 12,2 miliar (2007).

sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/sepakbola/2011/01/06/brk,20110106-304217,id.html

Bibit: Klub Sepakbola Lebih Baik Tanpa Biaya APBD  

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. TEMPO/Arif Wibowo

TEMPO Interaktif, Semarang - Gubernur Provinsi Jawa Tengah Bibit Waluyo menyambut baik keberadaan klub yang ikut kompetisi Liga Primer Indonesia, karena tidak menggunakan dana dari pemerintah daerah melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

"Klub sepakbola yang mandiri dan tidak nyedot uang APBD lebih bagus. Kita semua harus mendukungnya," ujar Bibit di Semarang, Kamis (6/1/2011). Selama ini, kata Bibit, uang dari APBD sudah tersedot ke banyak sektor. Banyak program yang harus dilakukan pemerintah daerah, sehingga anggaran di APBD harus dibagi ke berbagai sektor.

Ia mencontohkan, jika ada jalan rusak maka APBD harus menganggarkan untuk perbaikan. Begitu juga dengan berbagai persoalan di masyarakat lainnya, maka APBD dibagi-bagi. "APBD itu sudah diiris-iris dan dirajang-rajang untuk disalurkan kemana-mana," kata dia.

APBD Jawa Tengah 2011, kata dia, menggelontorkan dana ke bidang olahraga. Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah mendapatkan Rp 38 miliar, adapun Komite Olahraga Nasional (KONI) Jawa Tengah mendapatkan dana Rp 43 miliar.

Bibit menyatakan, selama ada program untuk kepentingan kemajuan sepakbola di Indonesia maka seluruh kompetisi harus didukung bersama. Jika ada kompetisi yang mencari bibit-bibit pemain sepakbola, maka itu juga lebih baik.

"Caranya ada yang melalui PSSI, ada yang melalui LPI, dan lain-lain," ujar Bekas Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) ini.

Para tokoh sepakbola di Indonesia bersama dengan pengusaha Arifin Panigoro menggelar kompetisi Liga Primer Indonesia. Laga perdana Liga Primer Indonesia akan digelar di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah Sabtu (8/1) mempertemukan Solo FC melawan Persema Malang.

Selama ini, banyak klup sepakbola yang mendapatkan kucuran dana dari APBD untuk biaya mengarungi kompetisi di bawah naungan PSSI. Di Semarang, misalnya, PSIS Semarang mendapatkan Rp 1,2 miliar dari APBD Perubahan 2010.

Gelontoran dana APBD untuk PSIS akhir-akhir ini memang berkurang tajam. Selain karena dikecam berbagai pihak, saat ini PSIS sudah berada di kompetisi divisi utama, tidak di kompetisi Liga Super.

Sebelumnya, dana yang diterima PSSI dalam musim kompetisi tahun-tahun lalu adalah Rp 3,1 miliar pada 2004, Rp 7,2 miliar (2005), Rp 14 miliar (2006), serta Rp 12,2 miliar (2007).

ROFIUDDIN





Suporter Sepakbola, Pilar Kehidupan Klub

http://www.shalimow.com/sepak-bola/suporter-sepakbola-pilar-kehidupan-klub.html

Suporter sepakbola masih sering menjadi tema sentral pembahasan dan diskusi khalayak, kehadirannya terkadang menyelinap diantara tema-tema penting dan panas lainnya. Terlebih apabila ada peristiwa penting dalam pertandingan sepakbola, atau ada hal yang khusus terkait dengan ulah para supporter sepakbola pendukung sebuah kesebelasan.

Suporter berasal dari akar kata “suporter “, dari kata kerja (verb) dalam bahasa Inggris to support dengan akhiran (suffict) –er.  To support mempunyai arti mendukung, sedangkan untuk akhiran –er menunjukkan pelaku. Kalau ditarik maknanya maka suporter berarti sebagai orang yang memberikan dukungan atau suport  tertentu pada ikhwal tertentu pula. Suporter bersifat aktif, memberi dukungan dengan dilandasi oleh perasaan cinta dan fanatisme tertentu.

Istilah supporter cukup dekat kekerabatanya dengan kata penonton, namun istilah  ‘penonton’ maknanya akan lebih luas daripada ’suporter’, artinya setiap suporter  mestinya seorang  penonton, sebaliknya tidak semua  penonton  itu adalah suporter.  Masyarakat umum kadang memakai kedua istilah ini bertukar-tukar, karena agak susah membedakanya untuk menyebut obyek yang sama dengan pilihan dua kata: suporter dan penonton.
Sepakbola adalah salah satu jenis olahraga yang sangat membutuhkan keberadaan supporter ini, ada multi fungsi keberadaannya. Untuk menyebut suporter sepakbola dibelahan dunia ini seperti tifosi dari Italia, torsedor dari  Amerika  Latin,  hooligans untuk suporter tim Nasional Inggris, dll. Ditingkatan klub-klub liga Indonesia juga dikenal sebutan untuk supporter beberapa klub tersebut, seperto LA Mania (Persela Lamongan), Aremania (Arema Malang),  Bonek (Persebaya Surabaya), Jackmania (Persija Jakarta), dll.

Kehadiran suporter bagi tim sepakbola tentu sangat diharapkan karena olahraga ini sudah bukan sekedar olahraga dengan tujuan sempit menjaga kesehatan, dll, namun sudah berkembang menjadi sebuah bisnis dan industri. Kehadiran suporter  akan membawa semangat tersendiri bagi para pemain, karena segala teknik, ketrampilan, kecepatan, kemahiran, dan seni bermain bola akan bisa dinikmati  oleh orang lain. Cinta, sayang, perhatian, dukungan tentu dinantikan oleh sang pemain dari para suporternya.

Suporter atau penonton ketika mendukung, menonton, dan menikmati sebuah pertandingan sepakbola tentunya berharap mendapatkan hiburan olahraga yang memadai dan segar. Dengan segenap pengorbanan berupa biaya tiket, parkir, transport, konsumsi, dll ynag dikeluarkan dari kocek seorang suporter tentu berharap mendapat imbalan berupa suguhan pertandingan yang dapat merefresh fikiran dari kepenatan, stress, dll. Jelaslah bahwa ada hubungan saling membutuhkan antara pemain klub/ tim sepakbola dan para suporternya, yang lebih penting lagi adalah ada jalinan kasih sayang, cinta, kebangaan diantara mereka terhadap nama dari tim kesayangan tersebut.

Apa jadinya sebuah tim yang hebat tanpa adanya supporter? mungkin beragam dampaknya apabila terjadi demikian, bisa pemainnya rawan drop karena kurang bersemangat, loyo, dll. Selain dampak tersebut mungkin dari sisi bisnis maka klub hebat tersebut akan kehilangan potensi bisnis yang dahsyat. Pendapatan dari industri sepakbola yang akan dialami klub tentu akan menemui beberapa kendala serius.

Pendapat dari tiket pertandingan tidak bisa diharap, pendapatan dari sponsor mulai tempat pertandingan, kostum tim, sepatu, dan pernak-pernik lainnya. Padahal disinilah peluang klub/tim mengeruk pendapatan untuk membiayai industri olahraga yang dikelolanya, biaya-biaya tersebut untuk menutup operasional seperti belanja pemain, biaya pertandingan, dll.

Jadi tidak dapat terelakkan lagi bahwa keberadaan supporter adalah hal yang vital bagi klub sepakbola, mereka menjadi pilar penyanggah panji-panji kebesaran tim/klub sepakbola. Karenanya para pengelola industri olahraga sepakbola untuk memberikan perhatian yang serius dalam membina kualitas suporternya, kuantitas penting tapi kualitas juga tidak kalah penting.

Tanpa pembinaan suporter yang terencana dan rutin maka akan bisa menyulitkan, dan merugikan team/klub. Ulah satu dua orang yang melakukan pelemparan kelapangan, masuk kelapangan, membuat kerusakan, tawuran tentu akan merugikan klub. Sanksi dengan beragam bentuknya akan dijatuhkan oleh regulator olahraga ini.  Klub akan merugi dan susah apabila suporter melakukan  hal yang demikian.

Kejadian di pertandingan sepakbola di Indonesia mengisyaratkan para pengelola klub untuk menyisihkan anggaran, menyusun strategi, melakukan pembinanan kepada suporter klub masing-masing. Pengorbanan tersebut tentu diharapkan semakin memperkokoh pilar klub. Dan pertandinganpun akan semakin menghibut dan enak dinikmati. Wasit yang memimpin pertandinganpun akan lebih mudah untuk mengendalikan pertandingan

Nirwan Bakrie: Wasit Memang Agak Rawan

http://www.tempointeraktif.com/khusus/selusur/korupssi/page10.php

FIGUR sentral Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bukanlah Nurdin Halid. Meski resminya hanya menjabat wakil ketua umum, pengusaha Nirwan Dermawan Bakrie, 59 tahun, yang banyak berperan pada induk organisasi sepak bola Indonesia itu. Tangannya ada di mana-mana: Badan Tim Nasional, PT Liga Indonesia, sampai Yayasan Sepak Bola Indonesia When I'm 64. Yayasan ini sedang membangun kompleks Akademi Sepak Bola di lahan 25 hektare milik keluarga Bakrie, di Jonggol, Jawa Barat.

Nurdin mengakui peran besar Nirwan dan keluarganya. Ketika lolos ke final Piala Federasi Sepak Bola ASEAN, Desember lalu, tim nasional khusus berkunjung ke rumah kakak Nirwan, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. "PSSI berterima kasih atas segala sumbangsih luar biasa keluarga Bakrie untuk kami," kata Nurdin ketika itu.

Bukan sekadar pengurus elite PSSI, Nirwan pun diduga mendukung Arema, klub asal Malang peserta Liga Super Indonesia. Pada musim kompetisi 2009-2010, tim itu pun menjadi juara liga. Jumat pekan lalu, selama hampir dua jam, Nirwan melayani wawancara wartawan Tempo Rofiqi Hasan, di Bakrie Estate, vila pribadi yang asri, tepat di tengah kompleks Hotel Pan Pacific Nirwana Bali Resort miliknya. Hiruk-pikuk Kongres PSSI sama sekali tidak merisaukan dia.

Praktek suap marak di Liga Super Indonesia?

Semua diawasi Komisi Disiplin. Tapi memang susah mengatur soal suap, karena sulit dibuktikan. Kadang terdengar tapi tidak tahu lagi. Tapi saya lihat, kalau suap antarpemain lebih sedikit, karena tanggung jawab mereka ke klub cukup berat. Nah, kalau wasit memang agak rawan, karena mereka bisa mempengaruhi pertandingan. Ini bisa kelihatan dari adil-tidaknya dia memimpin. Itu kita evaluasi.

Ada informasi petinggi PSSI punya klub-klub tertentu yang "dikawal" khusus?

Kalau niatnya membela bekas klub, bisa saja. Tapi, kalau wasit dan Komisi Disiplin tegas, tidak akan ada masalah.

Anda ikut membiayai dan mengawal klub Arema Indonesia sampai jadi juara Liga Super musim lalu?

Saya dengar itu. Tapi itu tidak benar. Saya memang punya perusahaan di Malang yang menjadi sponsor Arema. Jumlahnya juga kecil, hanya 5 persen dari puluhan miliar kebutuhan Arema. Jadi tidak masuk ke manajemen. Bukan saya yang mem-back up Arema. Kalau kepemilikan, saya hanya punya Pelita Jaya.

Waktu PT Bentoel meninggalkan Arema, Anda memang diminta membantu?

Waktu itu Badan Liga Indonesia yang mencarikan sponsor. Yang mengikat kontrak, ya, klub itu. Pak Andi (Andi Darussalam Tabusalla, Presiden Direktur PT Liga Indonesia) membantu Arema bukan sebagai orang dekat saya, tapi sebagai Direktur Badan Liga.

Tapi, dengan adanya dukungan Anda dan Andi Darussalam, klub lawan dan wasit jadi segan mencurangi Arema....

Tidak ada itu. Itu saya dengar juga. Termasuk soal jadi juara itu, ya. Arema hanya bisa juara kalau dia menang terus. Kualitas mereka memang bagus.

Klub milik Anda, Pelita Jaya, kabarnya juga "diselamatkan" dari degradasi dengan mengorbankan Persebaya?

Saya dengar itu. Saya sih gampang saja, waktu itu saya minta Pelita menang terus, supaya bisa playoff. Saya tidak bisa memaksa satu tim menang atau kalah. Tidak boleh. Apalagi semua anggota PSSI. Saya dengar semua isu itu. Saya sih tidak terlalu memikirkan. Asal tak melanggar peraturan, saya jalan terus saja.

Banyak orang ingin Nurdin Halid turun dari kursi Ketua Umum PSSI....

Coba lihat prestasi dia. Soal bekas narapidana, peraturan FIFA membolehkan. Apalagi anggota tetap memilih dia. Kalau soal tak disukai, semua Ketua Umum PSSI pernah diminta turun di tengah jalan.

Anda tidak mau jadi ketua umum?

Itu butuh kehadiran fisik 24 jam sehari. Kalau di negara lain, ada acara, ketua umum bisa diwakili. Di sini tidak bisa. Tapi saya siap membantu semuanya.


Aneka Akting Lapangan Rumput (2)

http://www.tempointeraktif.com/khusus/selusur/korupssi/page09.php

Di Divisi Utama dan Liga Super, suap minimal Rp 25 juta per pemain. Kongkalikong lebih sulit dilakukan di level ini. "Sebab, banyak sorotan media, mereka menjadi selektif," katanya. Para calo mendapat jatah 20-30 persen dari nilai suap, dibayar tunai, tak pernah transfer. Pembayaran 10 persen di muka, dan sisanya setelah klub "pengguna jasa" menang.

Pengurus klub tak memberikan arahan detail urusan akrobatik yang harus dilakukan pemain. "Mereka paham situasi," katanya. Ada seribu cara membuat pertandingan kacau demi menguntungkan klub yang bayar.

Berpura-pura dan marah paling mudah dilakukan. Aksi ini membuat pemain diganjar kartu atau menaikkan emosi dan menurunkan semangat tim. Modus lain yang paling sering dilakukan adalah bermain kasar di daerah penalti sendiri. Bisa juga pura-pura tak mampu membendung bola lawan.

Ada trik sejak 1980-an yang masih dipakai para penjaga gawang "bayaran" hingga sekarang. Kiper menyatukan telunjuk dan jari tengah dalam satu lubang jari sarung. Lalu jari manis disatukan dengan kelingking, juga di satu lubang. Alhasil, dua lubang jari sarung kosong. Tentu saja, bola gampang lolos dari tangkapan. Setelah kebobolan, kiper akan segera pasang tampang kesal dan kecewa. Ia melepas dan membuang sarung tangannya.

Beberapa pemain asing pun bisa dibeli. Nilai kontrak para pemain asing tak berbeda dengan pemain lokal kelas menengah ke bawah. Sebagian mendapat bayaran sekitar Rp 150 juta setahun. Selain pas-pasan, pembayarannya pun tak sesuai dengan kontrak.

Pemain asing asal Paraguay, Roberto Acosta, saat bermain di Deltras pada 2008 mengeluhkan 25 persen atau Rp 50 juta sisa kontrak belum dilunasi menjelang kontrak berakhir. Padahal 25 persen dari kontrak biasa diterima di awal kompetisi dan 75 persen diterima tiap bulan sebagai gaji.

Mantan General Manager Deltras George Handiwiyanto saat serah-terima kepengurusan menerima banyak sekali keluhan pemain asing. Menurut George, ada pemain yang dikontrak Rp 100 juta dan hanya menerima setengahnya. "Separuhnya dinikmati agen dan oknum pengurus klub, itu masuk kantong pribadi," kata George.

Hal senada diungkapkan mantan Manajer Persitara, Harry Ruswanto. Pemotongan kontrak pemain asing biasa dilakukan. Kalau pemain berkeberatan kontraknya dipotong, angka dalam kontrak dinaikkan. Bila harga pemain Rp 200 juta, kontrak yang tertera Rp 300 juta. Sisanya Rp 100 juta untuk kepentingan agen dan pengurus.

George sempat melaporkan masalah kontrak dan pertanggungjawaban keuangan yang tak beres di Deltras. Namun penyelidikan Kejaksaan Negeri Sidoarjo menguap. "Kasus ini sudah selesai, saya tidak ingin ada apa-apa lagi pada diri saya," ujar George. Soal kasus kontrak, Roberto yang sekarang bermain untuk klub di Vietnam tak memberikan jawaban atas konfirmasi Tempo lewat surat elektronik.

Tak semua pemain asing kaya mendadak setelah dikontrak klub di Indonesia. Mereka pun bersedia menerima "penghasilan tambahan". Menurut seorang pengurus klub, pemain asing dapat dihubungi lewat para agen. "Biasanya agen enggak enak menolak permintaan klub," katanya.

Klub menghubungi agen bila lawan mainnya memiliki pemain dari agen yang sama. Selain itu, kedua pemain asing tersebut berasal dari negara yang sama. "Mereka sulit diawasi, apalagi bila menggunakan bahasa asing yang tak dikenal," katanya.

Sub-agen yang banyak mengorbitkan pemain asing kelas menengah, Julian Baros, membantah tuduhan itu. "Tak pernah ada yang menawari saya cara seperti itu," katanya. Agen senior Eko Soebekti juga mengatakan tidak ada permainan seperti itu.



Aneka Akting Lapangan Rumput

http://www.tempointeraktif.com/khusus/selusur/korupssi/page08.php

Sepak bola lekat dengan jalan hidup Vigit Waluyo. Ayahnya, H M. Mislan, merupakan tokoh legendaris pendiri klub Delta Putra Sidoarjo-disingkat Deltras. Kini ia pun menjadi figur penting dalam persepakbolaan Jawa Timur. Selain memimpin pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Jawa Timur, ia mengelola sejumlah klub "binaan".

Vigit menangani antara lain Persikubar Kutai Barat, Mojokerto Putra, Mitra Kutai Kartanegara, dan Deltras Sidoarjo. Ia juga menangani Persiwangi Banyuwangi dan menjadi Manajer PSIR Rembang. Dengan posisinya, ia tak kesulitan ketika menangani Persebaya Surabaya, yang pengurus lama klubnya bergabung ke Liga Primer Indonesia dan berganti nama menjadi Persebaya 1927. Ia segera memboyong para pemain dan pelatih Persikubar ke Surabaya.

Para pemain di klub binaan Vigit rata-rata berusia tua buat ukuran sepak bola. Tapi bukan sekadar teknis yang dituntut. Mereka jagoan "nonteknis", istilah yang sering dipakai buat menyebut urusan menyuap wasit dan pemain. "Dia punya puluhan pemain sepak bola, yang selalu mengikutinya ke mana pun," kata seorang pemasok pemain asal Jawa Timur.

Vigit siap "menangani" klub bergantung pada dana yang ditawarkan. Satu klub sepak bola di Jawa Timur pernah meminta bantuannya dengan tawaran Rp 10 miliar. "Saya tidak mau menanggapi tuduhan macam-macam," katanya ketika dimintai konfirmasi soal suap-menyuap. "Kalau memang materi pemain dan pelatihnya bagus, pasti menang."

Pemain merupakan unsur penting dalam patgulipat pengaturan hasil pertandingan. Bagaimana caranya? Kejadian Agustus tahun lalu ini bisa menjadi contoh. Ketika itu, lima orang pemain Persis Solo-Nova Zaenal Muttaqin, Haryadi, Eko Kancil, Andry, dan Tommy Haryanto-dihubungi nomor tak dikenal yang mengaku Manajer Persiku Kudus. Penelepon meminta mereka tak tampil pada laga playoff Divisi Utama di antara kedua klub di Stadion Jatidiri, Semarang.

Mereka diimingi uang setara dengan sisa gaji yang belum mereka terima dari Persis. Mereka juga akan direkrut ke Persiku pada musim selanjutnya. "Kami tak tahu apakah itu benar Manajer Persiku Kudus atau bukan. Saat kami coba hubungi balik, nomornya tak aktif," kata Nova, gelandang serang yang kini bergabung ke PSIM Yogyakarta.

Seorang pengurus klub yang biasa menjalankan trik "membeli" pemain mengatakan operasi selalu dilakukan rapi dan tanpa jejak. Tawaran tak pernah disampaikan melalui SMS. "Kalaupun perlu menelepon, akan menggunakan nomor yang tak akan dipakai lagi," katanya. Modus ini yang dipakai buat mendekati lima pemain Persis.

Menurut pengurus itu, trik "membeli" pemain membantu timnya melaju ke Liga Super. Selama bertarung di Divisi II pada 2002 hingga lolos Divisi Utama pada 2008, klubnya memanfaatkan jasa para calo penghubung beberapa pemain yang bisa "dibeli". Klub juga memelihara "tim buser wasit", kelompok wasit yang dapat disuap. "Ini cara kami berjuang dalam sistem yang kotor," katanya.

Permainan gelap ini banyak dilakukan lewat perantara yang merangkap sub-agen, yang menawarkan transfer pemain ke klub tapi tak mengantongi lisensi. "Mereka memiliki lobi dan jaringan kuat dengan para pemain," kata sumber yang sama.

Permainan kotor melibatkan tiga-lima pemain, yang menerima suap Rp 5-25 juta per pemain pada kompetisi Divisi 1 dan 2. Pada tingkat divisi ini, gaji para pemain sering terlambat. Klub yang mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah terikat sistem keuangan daerah yang pencairannya pada bulan tertentu.